Masyarakat
Perkotaan dan Masyarakat Perdesaan
A. Pengertian
Masyarakat
Berikut di bawah
ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.
1. Selo Sumardjan, masyarakat
adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan
kebudayaan.
2. Karl Marx, masyarakat
adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau
perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi
secara ekonomi.
3. Emile Durkheim, masyarakat
merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4. Paul B. Horton
& C. Hunt,
masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama
dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai
kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok /
kumpulan manusia tersebut.
Masyarakat (sebagai
terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana
sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam
kelompok tersebut. Kata “masyarakat” sendiri berakar dari kata dalam bahasa
Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan
hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling
tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu
sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Masyarkat
terbagi menjadi 2 berdasaarkan lingkungan tempat tinggalnya, yaitu ada Masyarat
perkotaan dan Masyarakat Pedesaan, yang dimana Masyarakat di perkotaan
kehidupannya sudah lebih modern dibandingkan masyarakat yang di Pedesaan
B. Syarat-syarat
Menjadi Masyarakat
Menurut Marion
Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpolan manusia bisa
dikatakan / disebut sebagai masyarakat.
1.
Ada
sistem tindakan utama.
2.
Saling
setia pada sistem tindakan utama.
3.
Mampu
bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4.
Sebagian
atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.
Adapun syarat suatu kelompok disebut sebagai sebuah masyarakat adalah:
1.
Beranggotakan minimal
2 orang.
2.
Anggotanya sadar
sebagai suatu satu kesatuan.
3.
Berhubungan
dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling
berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antara anggota masyarakat.
4.
Menjadi sistem
hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain
sebagai anggota masyarakat.
C.
Masyarakat Perkotaan
1.
Pengertian Masyarakat Kota
Pengertian masyarakat perkotaan menurut para
ahli sebagai berikut :
1.
Wirth, kota adalah
suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang
yang heterogen kedudukan sosialnya.
2.
Max Weber, kota menurutnya, apabila penghuni
setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
3.
Dwigth Sanderson, kota
ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Dari beberapa
pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama.
Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu
dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.
Dari beberapa
pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama.
Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu
dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan. Beberapa definisi (secara
etimologis) “kota” dalam bahasa lain yang agak tepat dengan pengertian
ini, seperti dalam bahasa Cina, kota artinya dinding dan dalam bahasa Belanda
kuno, tuiin bisa berarti pagar. Jadi dengan demikian kota adalah batas.
Kota adalah
suatu ciptaan peradaban budaya umat manusia.
Kota sebagai hasil dari peradaban yang lahir dari pedesaan, tetapi kota berbeda dengan pedesaan. Masyarakat kota adalah suatu kelompok teritorial di mana penduduknya menyelenggarakan kegiatan-kegiatan hidup sepenuhnya, dan juga merupakan suatu kelompok terorganisasi yang tinggal secara kompak di wilayah tertentu dan memiliki derajat interkomuniti yang tinggi. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Kota sebagai hasil dari peradaban yang lahir dari pedesaan, tetapi kota berbeda dengan pedesaan. Masyarakat kota adalah suatu kelompok teritorial di mana penduduknya menyelenggarakan kegiatan-kegiatan hidup sepenuhnya, dan juga merupakan suatu kelompok terorganisasi yang tinggal secara kompak di wilayah tertentu dan memiliki derajat interkomuniti yang tinggi. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
2.
Ciri-Ciri Masyarakat Kota
Menurut konsep
Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut Kota, karena memang gaya
hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita
meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang
diantaranya mempunyai ciri-ciri:
1.
Netral
Afektif
Masyarakat Kota memperlihatkan sifat
yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan
konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal
yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan
hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut
netral dalam perasaannya.
2.
Orientasi
Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus
dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan
orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap
orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka
cenderung untuk individualistik.
3.
Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang
berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat
penting untuk Universalisme.
4.
Prestasi
Mutu atau prestasi seseorang akan dapat
menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang
dimilikinya.
5.
Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan
sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan
penduduknya.
Ada beberapa
ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:
1.
Kehidupan
keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
Masyarakat kota hanya melakukan kegiatan keagamaan hanya bertempat di rumah
peribadatan seperti di masjid, gereja, dan lainnya.
2.
Orang kota pada
umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
3.
Di kota-kota
kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, karena perbedaan politik dan
agama dan sebagainya.
4.
Jalan pikiran
rasional yang dianut oleh masyarkat perkotaan.
5.
Interaksi-interaksi
yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan pribadi dari pada
kepentingan umum.
3.
Unsur-Unsur Masyarakat Kota
Secara umum
dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan mengandung 5 unsur yang meliputi
:
1.
Wisma
Unsur ini
merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap
alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam
keluarga. Unsur wisma ini menghadapkan dapat mengembangkan daerah perumahan
penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa mendatang memperbaiki
keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu
kehidpan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan
menyenangkan
2.
Karya
Unsur ini
merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini
merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
3.
Marga
Unsur ini
merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara
suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu
dengan kota lain atau daerah lainnya.
4.
Suka
Unsur ini
merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan
fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
5.
Penyempurna
Unsur ini
merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat
tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan,
fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.
D.
Masyarakat Perdesaan
1.
Pengertian Masyarakat Desa
Pengertian masyarakat pedesaan menurut para ahli adalah
sebagai berikut:
1.
Sutardjo
kartodikusuma,
desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat
pemerintahan tersendiri.
2.
Bintaro, desa
merupakan perwujudan atau kesatuan
geografi, sosial, politik dan kultur yang terdapt di tempat itu (suatu daerah),
dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
3.
Paul H. Landis, desa adalah
penduduknya kurang dari 2.500 jiwa, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a)
Mempunyai
pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b)
Ada
pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c)
Cara
berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam
seperti: iklim, keadaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris
adalah bersifat sambilan.
Dalam kamus
sosiologi kata tradisional berasal dari bahasa inggris yaitu “tradition” yang
artinya adat istiadat atau kepercayaan yang turun temurun dipelihara. Desa
adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat
pemeritnahan sendiri. Pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang
saling berkaitan satu sama lain diantara unsur-unsurnya, yang sebenarnya desa
masih dianggap sebagai standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat
dan kebudayaan asli seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong
royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat, kesenian kehidupan moral
susila dan lain-lain yang mempunyai ciri khas jelas.
2.
Ciri-Ciri Masyarakat Desa
Ciri-ciri
masyarakat desa menurut adalah sebagai berikut:
1.
Menurut Talcott
Person
a.
Afektivitas
Ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta ,
kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong
menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain
dan menolongnya tanpa pamrih.
b.
Orientasi kolektif
Sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu
mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan
orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman
persamaan.
c.
Partikularisme
Pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya
dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan
subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok
tertentu saja.(lawannya Universalisme).
d.
Askripsi
Yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang
tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan
suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawannya prestasi).
e.
Kekaburan (diffuseness)
Sesuatu
yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang
dinyatakan eksplisit (tidak to the point). Masyarakat desa menggunakan bahasa
tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat
Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya
tanpa pengaruh dari luar.
2.
Menurut Paul H
Landis
a.
Umumnya mereka
curiga terhadap orang luar yang masuk.
b.
Para orang tua
umumnya otoriter terhadap anaknya.
c.
Cara berfikir
dan sikapnya konservatif dan statis.
d.
Mereka amat
toleran terhadap nilai budaya sendiri sehingga kurang toleran budaya lain
e.
Adanya sikap
pasrah menerima nasib dan kurang kompetitif.
f.
sikap udik dan
isolatifi serta kurang komunikatif dengan kelompok sosial diatasnya.
3.
Menurut Soerjono
Soekanto
a.
Kehidupan
masyarakat sangat erat dengan alam.
b.
Kehidupan petani
sangat bergantung pada musim.
c.
Desa merupakan
kesatuan sosial dan kesatuan kerja.
d.
Stuktur
perekonomian bersifat agraris.
e.
Hubungan antar
anggota masyarakat desa berdasarkan ikatan keluarga.
f.
Perkembangan
sosial relatif lambat.
g.
Kontrol sosial
ditentukan oleh moral dan hukum informal.
h.
Norma agama dan
adat istiadat masih kuat.
Kesimpulan dari
ciri-ciri masyarakat desa:
1.
Mempunyai
pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
2.
Ada
pertalian perasaan yang sama tentang kesukuan terhadap kebiasaan.
3.
Cara
berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam
sekitar seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang
bukan agraris adalah bersifat sambilan.
4. Didalam
masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam
dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
5. Sistem kehidupan
umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan.
6. Sebagian besar
warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian.
7. Masyarakat
tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat, dan
sebagainya.
3.
Gejala Masyarakat Pedesaan
a)
Konflik
( Pertengkaran)
Ramalan orang
kota bahwa masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tenang dan harmonis itu
memang tidak sesuai dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan
adalah penuh masalah dan banyak ketegangan. Karena setiap hari mereka yang
selalu berdekatan dengan orang-orang tetangganya secara terus-menerus dan hal
ini menyebabkan kesempatan untuk bertengkar amat banyak sehingga kemungkinan
terjadi peristiwa-peristiwa peledakan dari ketegangan amat banyak dan sering
terjadi.
Pertengkaran-pertengkaran
yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering
menjalar ke luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu
rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan
sebagainya.
b)
Kontraversi
(pertentangan)
Pertentangan ini
bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat),
psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli
hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi (pertentangan) ini dari sudut
kebiasaan masyarakat.
c)
Kompetisi
(Persiapan)
Sesuai dengan
kodratnya masyarakat pedesaan adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat
sebagai manusia biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai
sifat ini. Oleh karena itu maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa
negatif. Positif bila persaingan wujudnya saling meningkatkan usaha untuk
meningkatkan prestasi dan produksi atau output (hasil). Sebaliknya yang negatif
bila persaingan ini hanya berhenti pada sifat iri, yang tidak mau berusaha
sehingga kadang-kadang hanya melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal ini
kurang ada manfaatnya sebaliknya menambah ketegangan dalam masyarakat.
d)
Kegiatan
pada Masyarakat Pedesaan
Masyarakat
pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja
keras tanpa bantuan orang lain. Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah
masyarakat yang senang diam-diam tanpa aktivitas, tanpa adanya suatu kegiatan
tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi apabila orang berpendapat bahwa
orang desa didorong untuk bekerja lebih keras, maka hal ini tidaklah mendapat
sambutan yang sangat dari para ahli. Karena pada umumnya masyarakat sudah
bekerja keras.
Tetapi
para ahli lebih untuk memberikan perangsang-perangsang yang dapat menarik
aktivitas masyarakat pedesaan dan hal ini dipandang sangat perlu. Dan dijaga
agar cara dan irama bekerja bisa efektif dan efisien serta kontinyu (diusahakan
untuk menghindari masa-masa kosong bekerja karena berhubungan dengan keadaan
musim/iklim di Indonesia).
E. Tipe
Masyarakat
Masyarakat mempunyai tipe seperti
berikut:
1.
Masyarakat
kecil yang belum kompleks, yaitu masyarakat yang belum mengenal pembagian
kerja, struktur, dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajarisebagai satu kesatuan.
2.
Masyarakat
yang sudah kompleks, yaitu masyarakat yang sudah jauh menjalankan spesialisasi
dalam segala bidang, karena ilmu pengetahuan sudah maju, teknologi maju, dan
sudah mengenal tulisan.
F. Perbedaan
dan Ciri-Ciri antara Desa dan Kota
Dalam masyarakat
modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community)
dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto
(1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan
pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun
kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan
masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat
membedakan antara masyarakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya
karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan
fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda,
bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua
sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai
berikut:
No.
|
Masyarakat Kota
|
Masyarakat Pedesaan
|
1.
|
Ø Perilaku
heterogen
|
Ø Perilaku
homogen
|
2.
|
Ø Perilaku yang
dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
|
Ø Perilaku yang
dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
|
3.
|
Ø Perilaku yang
berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
|
Ø Perilaku yang
berorientasi pada tradisi dan status .
|
4.
|
Ø Mobilitassosial
|
Ø Isolasi
sosial, sehingga statik
|
5.
|
Ø Kebauran dan
diversifikasi kultural
|
Ø Kesatuan dan
keutuhan kultural
|
6.
|
Ø Birokrasi
fungsional dan nilai-nilai sekular
|
Ø Banyak ritual
dan nilai-nilai sakral
|
7.
|
Ø Individualisme
|
Ø Kolektivisme
|
Warga
suatu masyarakat pedesaan mempunyai
hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan
warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas
dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985),
menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama,
hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih
memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari
pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata,
tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian.
Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan
saja .
Golongan
orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting.
Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan
yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan
kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan,
lurah dan sebagainya.
G. Interaksi
Desa dan Kota
1. Pengaruh Desa pada Perkotaan
a.
Dampak Interaksi bagi Kota
Urbanisasi
merupakan salah satu bentuk dari interaksi desa-kota.
Menurut Hope Tisdale Eldrige (1956), pengertian urbanisasi adalah proses
perpindahan penduduk ke kota atau daerah permukiman padat. Istilah urbanisasi
juga digunakan untuk mendeskripsikan perubahan kelompok sosial yang terjadi
sebagai akibat konsentrasi manusia. Urbanisasi dapat juga berarti proses
perubahan daerah desa menjadi daerah kota. Pengertian urbanisasi tersebut
menunjukkan bahwa penduduk desa lebih mengenal kota. Banyak penduduk desa
meninggalkan daerahnya dan pindah ke kota terdekat. Sebagian dari mereka
bekerja di kota, tetapi bertempat tinggal di desa.
b.
Dampak positif bagi kota akibat adanya interaksi
desa dan kota
§
Tercukupinya
kebutuhan bahan pangan bagi penduduk perkotaan yang sebagian besar berasal dari
daerah perdesaan , seperti sayuran, buah-buahan, beras, dan lain sebagainya.
§
Jumlah
tenaga kerja di perkotaan melimpah karena banyaknya penduduk dari desa yang pergi
ke kota.
§
Produk-produk
yang dihasilkan di daerah perkotaan dapat dipasarkan sampai ke pelosok desa
sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar.
c.
Dampak negatif bagi kota akibat adanya interaksi
desa dan kota
§ Jumlah penduduk
desa yang pergi ke kota tanpa keahlian menimbulkan permasalahan bagi daerah
perkotaan, yaitu semakin meningkatnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin.
§ Penduduk dengan
pendapatan rendah kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya seperti sandang,
pangan, papan, kesehatan, pendidikan, hiburan, dan lain sebagainya.
§ Nilai lahan di
perkotaan yang mahal, memaksa warga menggunakan lahan atau tempat yang tidak
layak untuk permukiman, misalnya di bantaran sungai, pinggiran rel kereta api,
kuburan, dan kolong jembatan. Umumnya permukiman yang terbentuk adalah
permukiman kumuh. Menurut para geograf, wilayah perkampungan kumuh memiliki
empat ciri khas, yaitu tidak tersedia air bersih untuk minum, tidak ada saluran
pembuangan air, penumpukan sampah dan kotoran, serta akses ke luar perkampungan
yang sulit.
§
Terjadi
degradasi kualitas lingkungan. Peningkatan jumlah penduduk kota yang pesat
mendorong pembangunan rumah-rumah di wilayah kota. Pertumbuhan permukiman yang
cepat di perkotaan berpengaruh terhadap penurunan atau degradasi kualitas
lingkungan.
2. Pengaruh Kota pada Pedesaan
a.
Dampak Interaksi bagi Desa
Interaksi antara dua atau lebih
daerah yang berbeda akan berpengaruh pada masing-masing wilayah sehingga akan
memicu terjadinya perubahan. Seberapa besar perubahan yang terjadi tergantung
dari jarak, jumlah penduduk, dan berbagai factor pendukung lainnya seperti
sarana transportasi, komunikasi, listrik, dan lain sebagainya.
b.
Dampak positif bagi desa akibat adanya interaksi desa dan kota
v Pengetahuan penduduk desa menjadi meningkat karena
banyak sekolah dibangun di desa. Demikian pula informasi perkembangan dunia dan
ilmu pengetahuan yang diterima penduduk kota dengan mudah menyebar ke desa.
Misalnya, pengetahuan tentang bibit unggul, pengawetan kesuburan tanah, dan
pengolahan hasil panen.
v Jumlah guru dan sekolah yang banyak terdapat di desa
memungkinkan menjadi penggerak kemajuan penduduk desa melalui pendidikan. Angka
buta huruf penduduk desa semakin berkurang.
v Perluasan jalur jalan desa-kota dan peningkatan jumlah
kendaraan bermotor telah menjangkau daerah perdesaan sehingga hubungan
desa-kota semakin terbuka. Hasil panen dari desa menjadi mudah diangkut ke
kota. Kelangkaan bahan pangan di kota dapat dihindari karena suplai bahan
pangan mudah dilakukan.
v Produktivitas desa makin meningkat dengan hadirnya
teknologi tepat guna. Kehadiran teknologi tepat guna akan meningkatkan
kesejahteraan penduduk desa.
v Pelestarian lingkungan hidup perdesaan , seperti
pencegahan erosi dan banjir, penyediaan air bersih, serta pengaturan pengairan
dapat dilakukan dengan hadirnya para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
v Peningkatan kegiatan wiraswasta yang menghasilkan
produk berkualitas, seperti kerajinan tangan, industri rumah tangga, teknik
perhubungan dan perbengkelan, serta peternakan dapat dilakukan karena pemerintah
turun tangan.
v Pengetahuan tentang kependudukan bisa sampai ke
masyarakat desa yang umumnya memiliki banyak anggota keluarga. Kesadaran
memiliki keluarga kecil telah diterima oleh masyarakat desa.
v Koperasi dan organisasi sosial yang berkembang di
perdesaan telah memberi manfaat dalam peningkatan kesejahteraan penduduk dan
pembangunan desa.
c.
Dampak negatif bagi desa akibat adanya interaksi desa dan kota
v Modernisasi kota telah melunturkan orientasi pertanian
yang menjadi pokok kehidupan mereka. Misalnya, budaya kontes kecantikan,
peragaan busana, dan foto model.
v Siaran televisi yang dapat ditangkap di pelosok desa
dapat meningkatkan konsumerisme dan kriminalitas. Penduduk desa dengan mudah
meniru iklan dan tindak kejahatan dalam film atau sinetron yang ditayangkan
televisi.
v Pengurangan tenaga produktif bidang pertanian di desa,
karena banyak tenaga muda yang lebih tertarik bekerja di kota. Mereka
beranggapan di kota banyak kesempatan kerja dengan upah yang tinggi. Akibatnya,
di desa hanya tinggal orang tua dan anak-anak yang tidak produktif.
v Perubahan tata guna lahan di perdesaan akibat
perluasan wilayah kota dan banyak orang kota membeli lahan di wilayah
perbatasan desa-kota. Tindakan orang kota ini menyebabkan lahan di perbatasan
desa-kota berubah menjadi permukiman atau bangunan lain.
v Tata cara dan kebiasaan yang menjadi budaya kota masuk
ke pelosok desa dan cenderung mengubah budaya desa. Banyak kebudayaan kota yang
tidak sesuai dengan kebudayaan atau tradisi desa, sehingga sering menimbulkan
masalah dalam kehidupan masyarakat desa.
v Ketersediaan bahan pangan yang berkurang, peningkatan
pengangguran, dan pencemaran lingkungan menjadi masalah penting akibat
interaksi desa-kota.
H. Mengidentifikasi
Masalah Sosial
Masalah sosial
merupakan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Masalah sosial merupakan
suatu keadaan di masyarakat yang tidak normal atau tidak semestinya. Masalah
sosial dapat terjadi pada masyarakat di pedesaan maupun di perkotaan. Keadaan
masyarakat di pedesaan dan di perkotaan tentu berbeda. Pada umumnya masyarakat
pedesaan masih memegang erat nilai-nilai kerukunan, kebersamaan dan kepedulian.
Sehingga tidak heran sering kita jumpai adanya kerja bakti, saling memberi dan
menolong. Sedangkan masyarakat di kota hidup dalam suasana egois, individu (sendiri-sendiri),
kurang akrab serta kurang rukun. Kehidupan semacam ini sebenarnya merupakan
salah satu masalah sosial di wilayah tersebut. Saat ini di negara kita masih
banyak kita jumpai permasalahan sosial, antara lain sebagai berikut:
1.
Kebodohan
Salah satu akibat bila kita bodoh adalah
mudah diperalat orang lain. Kita juga akan sulit meraih cita-cita yang tinggi.
Kebodohan terjadi karena tidak memiliki pendidikan atau pendidikannya rendah.
Di negara kita ternyata masih banyak orang yang pendidikannya rendah bahkan
tidak pernah sekolah sama sekali. Masih ada orang yang tidak bisa membaca atau
buta huruf. Hal ini antara lain disebabkan oleh kemalasan, biaya pendidikan
yang tinggi dan tidak meratanya pendidikan di Indonesia.
2.
Pengangguran
Pengangguran adalah orang dewasa yang
tidak bekerja dan tidak mendapatkan penghasilan. Jumlah pengangguran semakin
banyak karena jumlah lulusan sekolah lebih banyak dari pada jumlah lapangan
pekerjaan. Selain itu para pengusaha dihadapkan pada persoalan kenaikan tarif
listrik dan harga bahan bakar minyak yang mahal. Hal itu menyebabkan banyaknya
perusahaan yang tutup dan bangkrut, atau setidaknya mengurangi jumlah
karyawannya. Itulah sebabnya pengangguran dapat menimbulkan permasalahan sosial
lainnya. Seperti kemiskinan, kejahatan, perjudian, kelaparan, kurang gizi
bahkan meningkatnya angka bunuh diri.
3.
Kemiskinan
Semakin banyak dan semakin lama orang
menganggur menyebabkan kemiskinan. Orang yang miskin tidak dapat memenuhi
kebutuhan pokoknya seperti pangan, sandang dan papan. Kemiskinan dapat
menyebabkan berbagai permasalahan sosial yang lain, seperti kejahatan,
kelaparan, putus sekolah, kurang gizi, rentan penyakit dan stress. Kemiskinan
bisa disebabkan oleh dua hal. Yakni dari dalam diri seseorang (internal) dan
faktor dari luar (eksternal). Faktor internal antara lain karena pendidikan
yang rendah, tidak memiliki keterampilan dan karena sifat malas. Sedangkan
faktor eksternal antara lain disebabkan oleh kondisi ekonomi negara yang buruk,
harga melambung tinggi dan kurangnya perhatian pemerintah.
4.
Kejahatan
Kejahatan sering disebut sebagai tindak
kriminal atau perbuatan yang melanggar hukum. Pengangguran dan kemiskinan dapat
menyebabkan tindak kejahatan. Jika tidak dilandasi keimanan dan akal sehat,
penganggur mengambil jalan pintas untuk mengatasi kemiskinannya. Banyak cara
keliru yang dijalani misalnya melakukan judi, penipuan, pencurian, pencopetan,
perampokan hingga pada pembunuhan. Yang stress dan tidak kuat bisa kemudian
minum-minuman keras atau memakai narkoba. Namun ternyata kejahatan tidak hanya
karena miskin. Banyak orang yang sebenarnya sudah mapan hidupnya melakukan
kejahatan.
5.
Pertikaian
Pertikaian bisa disebabkan karena salah
paham, emosi yang tidak terkendali atau karena memperebutkan sesuatu. Sesuatu
yang diperebutkan dapat berupa suatu prinsip, seseorang atau suatu barang.
Pertikaian dapat terjadi di dalam suatu keluarga atau di masyarakat. Pertikaian
yang tidak segera diselesaikan bisa berakibat fatal. Suatu pertikaian bahkan
dapat menimbulkan korban jiwa.
6.
Kenakalan
remaja
Kebut-kebutan bagi mereka sendiri sangat
berbahaya yakni dapat menimbulkan kecelakaan. Di samping itu juga mengganggu
dan membahayakan orang lain. Kenakalan remaja dapat berbentuk lain seperti
coret-coret dinding di jalan, minum-minuman keras, berdandan yang tidak
semestinya ataupun menggunakan narkoba. Penyebab kenakalan remaja antara lain
sebagai berikut :
7.
Kurangnya
perhatian dari orang tua
8.
Pengaruh
lingkungan pergaulan
9.
Kurang
mantapnya kepribadian diri
10.
Jauh
dari kehidupan beragama
I.
Solusi Masalah Sosial
Mengatasi
masalah sosial bukanlah perkara yang mudah. Berikut ini beberapa contoh upaya
yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi permasalahan sosial:
1.
Pemberian
kartu askes
Kartu Askes (Asuransi Kesehatan)
diberikan kepada keluarga miskin. Kartu Askes kadang disebut Askeskin (Asuransi
Kesehatan Keluarga Miskin). Dengan kartu Askes, keluarga miskin dapat berobat
di rumah sakit yang ditunjuk dengan biaya ringan atau gratis.
2.
Pemberian
beras untuk masyarakat miskin (Raskin)
Raskin merupakan program pemberian
bantuan pangan dari pemerintah berupa beras dengan harga yang sangat murah.
Dengan raskin diharapkan masyarakat yang termasuk keluarga miskin dapat
memenuhi kebutuhan pangannya.
3.
Pemberian
Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
BOS diberikan kepada siswa-siswi sekolah
mulai dari sekolah dasar sampai tingkat SLTA. Tujuannya untuk meringankan biaya
pendidikan. Sekarang juga sudah dilakukan program BOS buku. Yakni program
penyediaan buku pelajaran bagi siswa sekolah. Dengan BOS buku diharapkan orang
tua tidak lagi dibebani biaya membeli buku pelajaran untuk anaknya yang
sekolah.
4.
Sekolah
terbuka
Sekolah terbuka merupakan sekolah yang
waktu belajarnya tidak terlalu padat dan terikat. Sekolah terbuka diperuntukkan
bagai siswa yang kurang mampu. Dengan sekolah terbuka siswanya dapat sekolah
meskipun sudah bekerja.
5.
Program
pendidikan luar sekolah
Pendidikan luar sekolah biasanya berupa
kursus-kursus seperti menjahit, perbengkelan ataupun komputer. Pemerintah
mengadakan program pendidikan luar sekolah agar anak-anak yang tidak sekolah
atau putus sekolah dapat tetap memiliki ilmu dan ketrampilan.
6.
Pemberian
Bantuan Tunai Langsung (BTL)
BTL diberikan kepada masyarakat miskin
yang tidak berpenghasilan. BTL merupakan dana kompensasi/pengganti kenaikan
harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
7.
Pemberian
bantuan modal usaha
Bantuan modal usaha diberikan kepada
masyarakat miskin yang akan mengembangkan atau memulai suatu usaha. Biasanya
untuk usaha kecil dan menengah. Bantuan modal usaha ini adalah dalam rangka
mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
8.
Mengontrol
jumlah dan pertumbuhan penduduk
Untuk mengontrol jumlah dan pertumbuhan
penduduk salah satunya yaitu dengan program Keluarga Berencana (KB) dengan
semboyan dua anak saja cukup, dengan demikian diharapkan setiap anak yang lahir
akan bisa terurus dengan baik karena jumlah anak yang dilahirkan tidak banyak.
9.
Pemerataan
persebaran penduduk.
Pemerataan penduduk sebenarnya sudah
dilakukan sejak zaman belanda yaitu dengan mengirim penduduk pulau jawa ke
sumatra, kalimantan dan pulau-pulau yang lain untuk menjadi pekerja. Hal
seperti ini dilanjutkan pada masa orde baru dengan nama transmigrasi, ada
banyak perbedaan antara masa belanda dengan masa orde baru, pada masa orde baru
orang yang mau transmigrasi di beri tanah, rumah, di jatah bahan makanan dalam
kurun waktu tertentu. Transmigrasi dilakukan untuk mengurangi kepadatan
penduduk dan memberikan peluang usaha serta pekerjaan bagi masyarakat.
10.
Peningkatan
pelayanan kesehatan.
Kesehatan adalah modal utama manusia
dalam berdaya upaya, oleh karena itu kesehatan sangat penting dan karena
pentingnya tersebut pemerintah mencanangkan makanan 4 sehat 5 sempurna dan
posyandu-posyandu di desa-desa.
11.
Peningkatan
pelayanan pendidikan.
Pemerintah sudah berupaya keras untuk
meningkatkan pendidikan di indonesia yaitu dengan memberikan bantuan kepada
setiap sekolah dan siswanya. Serta diselenggarakannya SMP dan SMA terbuka yang
di khususkan untuk mereka yang tidak mampu, sekarang pemerintah mencanangkan
program WAJAR (wajib belajar).
Daftar Pustaka



Komentar
Posting Komentar